Bagaimana SML Seamless menggabungkan praktik manufaktur yang bertanggung jawab dengan transparansi digital di seluruh proses produksi tekstilnya.
Keberlanjutan Lebih dari Sekadar Bangunan Pabrik
Ketika membahas keberlanjutan dalam industri tekstil, perhatian sering kali tertuju pada fasilitas hemat energi, sertifikasi lingkungan, dan teknologi produksi yang lebih ramah lingkungan. Semua ini merupakan investasi penting, tetapi keberlanjutan dalam manufaktur sebenarnya mencakup lebih dari itu.
Sebuah pabrik mungkin sudah beroperasi di bangunan bersertifikasi ramah lingkungan, tetapi masih menghadapi tantangan dalam memantau penggunaan bahan baku, melacak produk selama proses produksi, dan menyediakan informasi yang akurat kepada pelanggan.
Karena itu, bagi produsen tekstil, keberlanjutan bukan hanya tentang fasilitas dan infrastruktur. Keberlanjutan juga berarti memiliki visibilitas, kendali, dan tanggung jawab atas seluruh proses produksi.
SML Seamless, produsen asal Turki yang berspesialisasi dalam pakaian olahraga tanpa jahitan (seamless activewear) dan pakaian pembentuk tubuh (shapewear), menjadi salah satu contoh bagaimana prinsip-prinsip ini dapat diterapkan secara nyata.
Perusahaan ini beroperasi di fasilitas bersertifikasi LEED Gold yang dirancang dengan memperhatikan aspek keberlanjutan. Namun, komitmen SML Seamless tidak berhenti pada bangunan pabrik. Perusahaan juga menerapkan pengelolaan bahan baku yang bertanggung jawab, memperhatikan penggunaan bahan kimia, memastikan ketertelusuran produksi, serta membangun hubungan yang transparan dengan pelanggan.
Bagi SML Seamless, digitalisasi menjadi bagian penting dalam menjalankan komitmen tersebut dalam kegiatan operasional sehari-hari.
Sebuah pakaian jadi mungkin terlihat sederhana. Namun, di baliknya terdapat berbagai tahapan produksi yang kompleks dan saling terhubung.
Di SML Seamless, proses produksi dimulai dari benang, kemudian berlanjut ke tahap perajutan, pengolahan tekstil, pewarnaan, pembuatan pakaian, pengemasan, hingga pengiriman.
Setiap tahap bergantung pada informasi dari proses sebelumnya. Bahan baku harus tersedia tepat waktu, jumlah produksi harus terus dipantau, dan setiap produk jadi harus tercatat dengan akurat.
Proses ini menjadi semakin kompleks ketika produsen harus menangani berbagai model pakaian, ukuran, warna, dan kebutuhan khusus dari setiap pelanggan.
Berbeda dengan produksi massal yang menggunakan proses standar, SML Seamless menerapkan sistem produksi yang fleksibel dan berdasarkan pesanan pelanggan. Kebutuhan produksi dapat berubah sewaktu-waktu, penggunaan mesin mungkin perlu disesuaikan, dan jumlah bahan baku yang digunakan dapat berbeda untuk setiap produk.
Untuk mengelola semua ini, perusahaan tidak cukup hanya memantau mesin atau departemen secara terpisah. Dibutuhkan sistem yang dapat memberikan gambaran menyeluruh tentang seluruh proses produksi.
Visibilitas seperti ini juga penting untuk mendukung manufaktur yang lebih bertanggung jawab.
Dengan mengetahui bahan baku yang digunakan, bagaimana produk melewati setiap tahap produksi, dan di mana terjadi pemborosan, perusahaan dapat mengelola sumber daya dengan lebih baik sekaligus memberikan informasi yang lebih jelas kepada pelanggan.
Bagi produsen tekstil yang memasok produk ke berbagai merek internasional, transparansi kini menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan pelanggan.
Berbagai merek membutuhkan informasi yang jelas dan dapat dipercaya dari mitra manufaktur mereka, terutama terkait bahan baku, proses produksi, dan kualitas produk.
SML Seamless menjadikan tanggung jawab ini sebagai bagian dari prinsip bisnisnya.
Seperti yang dijelaskan oleh CEO SML Seamless, Koray Bey, dalam wawancara, tanggung jawab perusahaan mencakup bahan baku yang dibeli, bahan kimia yang digunakan selama produksi, hingga potensi dampak produk terhadap konsumen akhir.
Karena itu, kemampuan untuk memberikan informasi secara terbuka menjadi sangat penting.
Namun, transparansi hanya dapat terwujud jika perusahaan memiliki data dan catatan produksi yang akurat.
Ketika informasi tersebar di berbagai spreadsheet, departemen, atau hanya diketahui oleh karyawan tertentu, mencari data yang dibutuhkan bisa memakan banyak waktu.
Hal ini menjadi semakin sulit ketika pelanggan mengajukan pertanyaan atau muncul masalah yang perlu segera ditelusuri.
Sistem informasi yang terintegrasi membantu produsen menyimpan catatan produksi secara terpusat dan mengakses data operasional yang dibutuhkan tanpa harus mengumpulkan informasi secara manual dari berbagai sumber.
Inilah salah satu alasan mengapa SML Seamless melihat ketertelusuran dan digitalisasi sebagai dua hal yang saling berkaitan.
Transparansi bukan sekadar kesediaan untuk berbagi informasi, tetapi juga kemampuan untuk menyediakan data yang akurat kapan pun dibutuhkan.
Untuk mengelola berbagai proses operasional yang saling terhubung, SML Seamless menggunakan 1C:Drive sebagai sistem manajemen bisnis terintegrasi.
Solusi ini mendukung berbagai aktivitas perusahaan, mulai dari pembelian dan pengelolaan bahan baku, perencanaan produksi, manajemen persediaan, penjualan, hingga pengiriman.
Menurut tim produksi SML Seamless, 1C:Drive digunakan di seluruh proses manufaktur, mulai dari penerimaan benang hingga pengemasan dan pengiriman produk jadi.
Informasi dari setiap departemen dicatat dalam sistem sehingga karyawan dapat memantau aktivitas produksi dan mengakses data terbaru dengan lebih mudah.
Sebagai contoh, selama proses pembuatan pakaian, tim dapat memantau jumlah produk yang diterima dari tahap sebelumnya, material yang terbuang selama produksi, jumlah pakaian yang telah dijahit, produk yang sudah dikemas, hingga jumlah barang yang siap dikirim.
Data tersebut kemudian digunakan untuk menyusun laporan produksi dan pengiriman, sehingga tim dapat mengetahui perkembangan setiap pesanan.
Informasi persediaan dan gudang juga dikelola dalam sistem yang sama. Selain itu, laporan produksi dan biaya membantu perusahaan memahami kondisi operasional dengan lebih jelas.
Pendekatan ini sangat penting bagi produsen seperti SML Seamless yang harus menangani berbagai kebutuhan pelanggan dan proses produksi yang kompleks.
Dengan menggunakan satu sistem terintegrasi, setiap departemen dapat mengakses informasi yang sama tanpa harus bergantung pada catatan yang terpisah-pisah.
Hasilnya, proses produksi menjadi lebih mudah dipantau, dikelola, dan dikoordinasikan antarbagian.
Efisiensi penggunaan sumber daya merupakan salah satu faktor penting dalam industri manufaktur tekstil.
Membeli bahan baku terlalu banyak dapat meningkatkan jumlah persediaan dan kebutuhan modal perusahaan. Sebaliknya, kekurangan bahan baku dapat menghambat produksi dan menyebabkan keterlambatan pengiriman pesanan.
Karena itu, perencanaan yang baik membutuhkan informasi yang jelas mengenai jumlah bahan baku yang tersedia dan kebutuhan material untuk produksi berikutnya.
Di SML Seamless, 1C:Drive membantu proses ini melalui pengelolaan spesifikasi produk, pencatatan penggunaan bahan baku, manajemen persediaan, dan perencanaan kebutuhan produksi.
Sebelum produksi dimulai, perusahaan dapat menghitung jumlah bahan baku yang diperlukan berdasarkan spesifikasi produk dan target produksi.
Selama proses berlangsung, penggunaan bahan baku dan jumlah produk yang dihasilkan juga dapat dicatat serta dipantau.
Dengan cara ini, perencanaan produksi, pembelian bahan baku, dan pengelolaan keuangan dapat berjalan lebih terhubung.
Seperti yang dijelaskan Koray Bey, merencanakan pesanan pelanggan bukan hanya soal menentukan jumlah produk yang harus dibuat, tetapi juga memastikan ketersediaan bahan baku dan dana yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pesanan tersebut.
Dari sisi keberlanjutan, pengelolaan operasional seperti ini memiliki manfaat yang penting.
Informasi yang akurat membantu perusahaan merencanakan pembelian dengan lebih baik, mengidentifikasi pemborosan selama produksi, serta menemukan peluang untuk menggunakan sumber daya secara lebih efisien.
Meskipun perencanaan digital tidak secara otomatis mengurangi dampak lingkungan, sistem ini membantu produsen memahami dan mengendalikan berbagai proses yang memengaruhi penggunaan material.
Salah satu hal menarik dari pendekatan SML Seamless adalah bagaimana perusahaan memandang tanggung jawabnya terhadap produk yang dihasilkan.
Bagi Koray Bey, tanggung jawab produsen tidak berakhir ketika sebuah pakaian meninggalkan pabrik.
Bahkan setelah produk dijual oleh pelanggan dan mulai digunakan oleh konsumen akhir, SML Seamless tetap menganggap produk tersebut sebagai bagian dari tanggung jawab perusahaan.
Prinsip ini menunjukkan bahwa tanggung jawab jangka panjang menjadi bagian penting dari cara SML Seamless menjalankan bisnisnya.
Hal ini juga menjelaskan mengapa pencatatan produksi, ketertelusuran, dan informasi yang akurat tidak hanya dibutuhkan untuk meningkatkan efisiensi operasional sehari-hari.
Dengan visibilitas yang lebih baik terhadap seluruh proses produksi, perusahaan dapat lebih mudah menelusuri masalah, memberikan penjelasan kepada pelanggan, dan mempertanggungjawabkan kualitas produk yang dihasilkan.
Bagi SML Seamless, 1C:Drive menjadi bagian dari infrastruktur digital yang mendukung pendekatan tersebut.
Perusahaan telah mengintegrasikan pengetahuan manufaktur dan berbagai proses operasionalnya ke dalam satu sistem, sehingga memiliki fondasi yang kuat untuk terus berkembang mengikuti kebutuhan bisnis.
Manufaktur tekstil yang berkelanjutan tidak dapat diwujudkan hanya melalui satu teknologi, sertifikasi, atau perubahan dalam proses produksi.
Keberlanjutan membutuhkan kombinasi antara fasilitas yang ramah lingkungan, pengelolaan sumber daya yang bijak, proses produksi yang transparan, serta tanggung jawab jangka panjang terhadap produk yang dihasilkan.
Sistem digital memang tidak dapat menggantikan komitmen perusahaan terhadap lingkungan dan praktik manufaktur yang bertanggung jawab. Namun, teknologi dapat membantu mewujudkan komitmen tersebut dengan membuat informasi produksi lebih mudah diakses, lebih konsisten, dan lebih mudah dikelola.
Pengalaman SML Seamless menunjukkan bagaimana sistem ERP terintegrasi seperti 1C:Drive dapat mendukung upaya tersebut dengan menghubungkan seluruh aktivitas produksi dan menyediakan informasi yang dibutuhkan untuk mengelolanya secara bertanggung jawab.
Karena dalam industri tekstil modern, keberlanjutan bukan hanya tentang seberapa ramah lingkungan sebuah pabrik, tetapi juga tentang seberapa baik produsen memahami, mengendalikan, dan bertanggung jawab atas setiap proses produksi di dalamnya.